Nikmatnya Balas Dendam - Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.

10:06:00 AM



 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim...

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kepada saudara sekalian, walaupun sedikit yang saya sampaikan, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga keimanan kita semakin tinggi kepada Allah SWT. Amin

Postingan kali ini akan membahas mengenai Nikmatnya Balas Dendam.

Balas Dendam? Yakin?

Oke kita ambil contoh dari lingkungan rumah saja...
Jika kita menjadi seorang suami, mungkin nanti kita akan mengeluhkan tentang istri kita, dan berkata "Istri saya males ikut pengajian" "Istri saya susah disuruh suami". Bahkan sebaliknya, jika kita menjadi seorang istri, mungkin nanti kita akan mengeluhkan tentang suami kita, dan berkata "Suami saya susuh disuruh bantu urusan rumah tangga" "Suami saya susah untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami". Sama hal nya jika kita menjadi seorang tetangga, mungkin kita akan mengeluhkan tentang tetangga yang lainnya.

Sama juga dengan ketika kita punya sahabat, namun kita berkata

"Sahabat saya tidak mau mengucapkan salam, bukan orang yang baik, bahkan sering kali tidak menyapa saya. Akhirnya saya pun membalasnya dengan hal yang sama, saya tidak ingin menyapanya, mengucapkan salam, menjadi orang yang tidak baik terhadapnya"

Kalau itu yang akan terjadi, mau sampai kapan kita akan bersikap dan berfikir seperti ini?

Pemikiran yang "Jika dia seperti itu, maka saya pun akan seperti ini"

Mau sampai kapan kita akan membalaskan dendam kita? sampai pembalasan dendam itu harus lebih kejam dari apa yang dia lakukan?

Contohnya bisa kita ambil dalam kehidupan di rumah tangga, ketika suami tidak peduli dengan curhatan istri, istri akan membalas kan dendamnya dengan tidak mendengarkan curhatan suami, bahkan sampai tidak mau masak dan membuatkan minum suami.

Membalaskan dendam yang lebih kejam itu banyak yang bilang kita akan merasakan kepuasan yang tiada tara.


Namun, apakah masalah tersebut selesai dengan kita membalas dendam? Tentu Tidak

Karena ketahuilah, pembalasan hanya akan menimbulkan dendam, dan terus akan selalu sama seperti itu sampai keduanya mengalah. Tapi, seburuk apapun, sejelek apapun, apapun yang dilakukan orang lain kepada kita, nyata nya dalam waktu singkat akan ada balasannya. Yap balasan, tapi kapan? tetap berpegang teguh dengan akhlak sebagai seorang muslim, ketika kita tetap santun, memaafkan, berempati, menolong, dermawan, ketika orang lain memaki kita namun kita memujinya, ketika orang lain menghina kita namun kita memuliakannya, ketika seorang kerabat memutus tali silahturahmi, namun kita menyambungkannya kembali, maka ini lah satu satunya cara kita menyelesaikan suatu masalah, bukan dengan balas dendam, namun dengan tetap menjadi muslim yang istiqomah berpegang teguh pada akhlaknya.

Seperti yang pernah dikisahkan oleh Aisiyah kepada Abu Bakar
Kisah Rasulullah ketika dibenci oleh orang Yahudi:
Di satu sudut pasar Madinah Al- Munawarah ada seorang pengemis Yahudi buta. Hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya dia selalu berkata, "Wahai saudaraku janganlah kami dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya." Namun tanpa disedari pengemis Yahudi buta, setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan. Tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Begitulah yang dilakukan oleh baginda pada setiap hari sehinggalah ke saat kewafatannya. Setelah Rasulullah SAW wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abu Bakar Radhiallahu Anhu (RA) berkunjung ke rumah anaknya Aisyah. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan...?" Aisyah menjawab pertayaan ayahnya, "Wahai ayahanda, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja." "Apakah itu?", tanya Abu Bakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana," kata Aisyah. Keesokan harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk di berikannya kepada pengemis itu. Beliau mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar RA mulai menyuapkan nasi, si pengemis itu marah sambil berteriak, "Siapakah kamu?" Abu Bakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa." "Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku," jawab si pengemis buta itu. "Apabila dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapkan aku tetapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut," pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abu Bakar RA tidak dapat menahan air matanya. Beliau menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari pada sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi. Beliau adalah Muhammad Rasulullah SAW." Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar RA, dia pun menangis dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya dan memfitnahnya. Dia tidak pernah memarahiku walau sedikit pun, malah dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia begitu mulia.." Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadah di hadapan Abu Bakar RA.
Betapa indahnya kisah tersebut, kisah diatas mengajarkan tentang berbuat baiklah ketika orang lain berbuah kejahatan kepada kita, jadilah orang yang rendah hati.

Walaupun tidak ada didunia ini mausia itu sempurna, yang tidak pernah melakukan kesalahan, namun ketika kesalahan dilawan dengan kesalahan, kekerasan dilawan dengan kekerasan, maka apa yang terjadi? kita tidak akan mendekati penyelesaian masalah, akan timbul masalah masalah baru yang akan kita hadapi.

Maka dari itu, inti sukses bermasyarakan, berkeluarga, berteman, bergaul, bersosial adalah dengan menjadi muslim yang baik, yang tidak membalaskan dendam nya dengan kejahatan, tatapi membalasnya dengan kebaikan.

Firman Allah SWT di dalam Al-Qur'an :

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama perbuatan yang baik dan yang jahat. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba antara kamu dan dia ada permusuhan jadikan seolah-olah ia adalah teman yang sangat setia”.(Qs: Fushilat : 34).

Jadi balaslah kejahatan dengan cara yang terbaik, dengan sesuatu yang lebih baik, dengan sikap yang lebih baik, karena dengan cara ini, orang yang tadinya memusuhi dan membenci kita, maka dia akan berubah sikapnya, dia akan menjadi lebih baik dan sungkan, bahkan dalam waktu yang singkat, dia akan mejadi pembela kita yang sangat setia, yang membela kita ketika kita difitnah, yang membela kita ketika kita membutuhkan pertolongan.

Maka dari itu, didalam semua urusan, janganlah kita mempunyai niat balas dendam, walaupun balas dendam itu diperbolehkan selama balas dendam itu setimpal, 

Seperti Firman Allah SWT :

فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

"....Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa."(Q.S Al-Baqarah 2:194)

Namun orang yang memaafkan dan berusaha membenarkan, merapatkan, membenahi yang salah, memberi sesuatu yang sifatnya pelit, merangkul orang yang membenci kita, maka pahala dia sangatlah besar disisi Allah SWT. Kalau kita memaafkan, kita akan lebih dekat dengan ketakwaan.

Dalam Firman Allah SWT :

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖفَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى الَّهِ ۚإِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (Q.S Asy-Syura 40)

Wahai saudara, kobarkan lah semangat untuk saling memaafkan, besarkan lah semangat untuk merekatkan, bukan untuk menjauhkan apalagi balas dendam, hapuskan dan jauhkan sejauh jauhnya keinginan balas dendam, apalagi balas dendam kepada orang orang terdekat kita, karena balas dendam adalah sesuatu yang sangat buruk, bukannya menyelesaikan masalah melainkan menjadikan masalah semakin runyam, kacau, berantakan, dan susah untuk diperbaiki.

Saya mendapatkan sumbernya dari video dibawah ini,


Semoga bermanfaat,
Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

You Might Also Like

0 komentar