Kisah Cinta Sejati Zainab dengan Abul Ash bin Rabi - Ustadz Abu Fairuz, MA.

8:45:00 PM


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim...

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kepada saudara sekalian, walaupun sedikit yang saya sampaikan, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga keimanan kita semakin tinggi kepada Allah SWT. Amin

Dalam kehidupan rumah tangga, kita sering sekali mendengar kisah-kisah percintaan yang menggugah, kesetian yang menggugah dalam rumah tangga.

Ada suatu kisah dari putri Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam, yaitu Zainab yang menikah dengan Abul Ash bin Rabi.

Awal cerita, Abul Ash bin Rabi datang kepada Rasulullah, ia meminta agar Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam sudi untuk menikahkan putrinya Zainab, lalu Rasulullah berkata "Tunggu sebentar, saya akan tanyakan kepada Zainab" karena dalam islam perempuan berhak untuk memilih siapa yang dia senangi dan tidak dia senangi, tidak boleh seorang perempuan dipaksa untuk menikah dengan seseorang yang dia tidak cintai, maka Rasulullah mendatangi putrinya "Wahai Zainab putriku, sungguh Abul Ash bin Rabi datang untuk meminta dirimu sudi untuk menjadi istrinya" namun Zainab terdiam, maka Rasulullah paham bahwa Zainab ridha jika Abul Ash bin Rabi menjadi suaminya, karena dalam islam seorang perempuan perawan begitu malu, sehingga terkadang untuk mengatakan setuju pun dia tidak berani, Maka terjadilah pernikahan antara Abul Ash bin Rabi dengan Zainab.

Hari berganti bulan, saat Rasulullah berusia 40 tahun, maka Allah SWT mengutusnya menjadi Nabi, kemudian setelah itu Allah angkat menjadi Rasul, mulailah Rasulullah mendakwahkan islam kepada keluarga keluarga terdekat, Khadijah dan putri-putrinya pun ikut masuk islam termasuk Zainab, masuk islam pula para sahabatnya.

Zainab tinggal bersama Abul 'Ash bin Rabi' suaminya. Hingga pada suatu ketika, pada saat suaminya pulang dari berdagang, Zainab menemui suaminya, dan mengatakan.

"Wahai suamiku tercinta, sungguh aku inginkan bagimu kebaikan, sebagaimana yang aku rasakan, islamlah, sungguh ayahku telah mendapatkan wahyu dari langit, dan ayahku bukanlah seorang pendusta" lalu Abul Ash menjawab "Mengapa engkau tidak izin kepadaku?" kemudian Abul Ash pergi meninggalkan istrinya, dan mengatakan enggan masuk islam, Subahanallah..


Tetapi walaupun demikian, kehidupan rumah tangga mereka tetap berjalan sebagaimana biasanya orang berumah tangga. karena ketika itu Allah SWT belum memerintahkan bahwa tidak boleh menjalin hubungan rumah tangga jika salah satu muslim/muslimah, dan satu-nya lagi musyrik.

Subahanallah, 20 tahun hubungan ini berjalan dalam kekufuran, datanglah masanya hijrah dari kota mekkah dimana orang orang beriman di sakiti, hartanya diambil, ketika itu datanglah Zainab kepada Rasulullah, dan berkata :

"Wahai ayahanda, sudikah engkau membiarkan aku disini bersama suamiku? saya ini mengurusnya" 

lalu Rasulullah mengizinkan Zainab untuk menemani suaminya, yang ketika itu masih belum masuk islam. Senantiasa Zainab berupaya mengajak suaminya untuk masuk islam, namun apa daya Zainab, karena hidayah hanya ada di tangan Allah SWT, sedasyat apapun ketegaran hati Zainab menajak suaminya untuk masuk islam, tetap saja Abul Ash tidak mau, dia mengatakan :

"Sungguh aku tidak mau, karena aku khawatir orang-orang mekah mengatakan aku masuk islam disebabkan karena istriku, karena aku patuh kepada istriku, aku tidak ingin dikatakan oleh orang-orang kafir"

Namun Zainab tetap sabar menghadapi suaminya, sehingga datanglah masa perang Badar, dimana semua orang di mekah dipaksa untuk memerangi kaum muslimin, terjadilah perang dengan 313 pasukan kaum muslimin berhadapan dengan 1000 orang dari Quraisy, diantaranya ada Abul Ash bin Rabi yang juga dipaksa untuk memerangi umat muslim, sungguh Zainab khawatir kalau suaminya terbunuh, dan juga khawatir kalau ayah nya juga terbunuh,

Perang Badar pun usai dengan kemenangan uman muslim atas izin Allah SWT, terbunuhnya dan tertawannya kaum Quraisy,  termasuk Abul 'Ash bin Rabi'. Ketika penduduk Mekkah datang unluk menebus para tawanan, maka saudara laki-laki Abul 'Ash, yaitu Amar bin Rabi', telah datang untuk menebus dirinya. Ketika itu, Zainab istri Abul 'Ash masih tinggal di Mekkah. la pun telah mendengar berita serangan kaum muslimin atas kafilah-kafilah Quraisy termasuk berita tertawannya Abul 'Ash.
Berita ini sangat meiiyedihkannya. Lalu ia mengirimkan kalungnya yang terbuat dari batu onyx Zafar hadiah dari ibunya, Khadijah binti Khuwaylid ra. Zafar adalah sebuah gunung di Yaman. Khadijah binti Khuwaylid telah memberikan kalung itu kepada Zainab ketika ia akan menikah dengan Abul 'Ash bin Rabi'. Dan kali ini, Zainab mengirimkan kalung itu sebagai tebusan atas suaminya, Abul 'Ash. Kalung itu sampai di tangan Rasulullah SAW. Ketika beliau SAW. melihat kalung itu, beliau segera mengenalinya. Dan kalung itu mengingatkan beliau kepada istrinya yang sangat ia sayangi, Khadijah. Beliau berkata,

"Wahai kaum muslimin, kukembalikan kepada kalian kalau semisalnya kalian memberikan izin kepada Abul Ash dibebaskan tanpa harus dengan meberikan jaminan kalung ini, karena kalung ini merupakan kalung milik Khadijah yang diberikan kepada Zainab, dan Zainab menebus suaminya dengan kalung ini"

Maka dibebaskan lah Abul Ash tanpa tebusan, dikembalikanlah kalung tersebut kepada Zainab.

Kehidupan terus bergulir, tetapi Abul Ash masih belum juga diberikan hidayah untuk masuk islam, Subahanallah..
Maka datanglah Rasulullah mebisikan ketelinga Abul Ash, dan mengatakan :

"Aku ingin mebisikan kepadamu suatu perkata, maka dengarkan. Wahai Abul Ash, aku tidak pernah mengetahui engkau berkhianat, aku mohon kepadamu, kau kembalikan Zainab, sungguh Allah SWT telah mengharamkan kalian untuk bersama dengan dua keyakinan yang berbeda" 

Maka Abul Ash menjawabnya,

"Baik Ya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam"

Lalu Abul Ash kembali ke Mekkah, dia mengatakan kepada Zainab :

"Wahai Zainab, sungguh kita akan berpisah", lalu Zainab bertanya "Kenapa wahai suamiku?" Abul Ash menjawab "Sesungguhnya ayahmu memerintahkan agar engkau diantarkan ke kota Madinah, sesungguhnya Allah telah melarang kita untuk tetap bersama"

Akhirnya Zainab pun diantarkan ke kota Madinah, berpisahlah kedua kekasih ini. 6 tahun Zainab di kota Madinah berpisah dengan suaminya, berbagai macam lamaran datang ingin menikahi Zainab, tetapi ia tidak sudi menerima lamaran tersebut, dia berharap senandainya suaminya kembali dan masuk islam, dia berharap suaminya datang kepadanya dengan keadaan islam dan menjemputnya kembali menjadi istri Abul Ash, Subahanallah...

Setelah 6 tahun datang saatnya Abul Ash pergi membeli dan menghantarkan berbagai macam ragam perdagangan orang Quraisy, ketika pulang, Abul Ash mendapati para sahabat-sahabat Rasulullah sedang mengintainya, maka seketika kaum muslimin mengejar Abul Ash, dan saat itu Abul Ash lari meninggalkan harta milik orang orang Quraisy, ia bersembunyi, dan bertanya dimana rumah Zainab, lalu ia masuk kerumah Zainab, ia kaget melihat suaminya dan bertanya "Apakah engkau telah masuk islam?" Abul Ash menjawab "Tidak, aku datang menyembunyikan diri, sungguh kaum muslimin telah mengambil harta milik kaum Quraisy, tolong Zainab amankan diriku" sembunyilah Abul Ash dirumah Zainab.

Lalu ketika subuh, Zainab berkata sekeras kerasnya "Wahai kaum muslimin, sungguh saya telah meberikan jaminan keselamatan kepada Abul Ash, maka dia jangan di ganggu" kemudian Rasulullah berkata "Wahai kaum muslimin, kalian mendengar suaranya? kita wajib memberikan kepada Abul Ash jaminan keselamatan "

Kemudian Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam meminta kepada kaum muslimin, "Kalau kalian sudi mengembalikan semua harta kaum Quraisy untuk diantarkan ke Madinah, lakukan! tapi tidak saya paksa" untuk mencari keridhaan Rasulullah, maka mereka mengembalikan seluruh harta kaum Quraisy.

Abul Ash berangkat ke kota Madinah dan menghantarkan semua harta milik orang-orang Quraisy pada pemilik-pemiliknya, setelah semua kembali kepada pemilik-pemiliknya, maka berkatalah Abul Ash :

"Wahai orang-orang Quraisy, ada yang kurang? apakah harta ada yang tertinggal?"

maka mereka mengatakan, "Tidak, sesungguhnya engkau orang yang jujur, sebaik-baiknya orang adalah engkau"

Lalu Abul Ash bersaksi "Wahai kaum Quraisy, saat ini aku telah bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang patut disembah kecuali Allah, dan Rasulullah sebagai utusan Allah, saya mengimani Muhammad, dan saya akan kembali berhijrah"

Maka dia kembali ke kota madinah, kemudian ia bersaksi dihadapan Rasulullah kemudian masuk islam, lalu Rasulullah mengembalikan pernikahan Zainab dengan Abul Ash, dan mereka hidup sebagaimana seorang istri.

Sungguh betaba bahagianya Zainab ketika melihat keislaman Abul Ash. 1 tahun setelah itu, Zainab meninggal, Zainab wafat pada tahun 8 Hijriyah. Orang-orang yang memandikan jenazahnya ketika itu, antara lain ialah; Ummu Aiman, Saudah binti Zam'ah, Ummu Athiyah dan Ummu Salamah ra.. Rasulullah SAW. berpesan kepada mereka yang akan memandikan jenazahnya ketika itu, 'Basuhiah dia dalarn jumlah yang ganjil, 3 atau 5 kali atau lebih jika kalian merasa lebih baik begitu. Mulailah dari sisi kanan dan anggota-anggota wudhu. Mandikan dia dengan air dan bunga. Bubuhi sedikit kapur barus pada air siraman yang terakhir. Jika kalian sudah selesai beritahukaniah kepadaku.' Ketika itu, rambut jenazah dikepang menjadi tiga kepangan, di samping dan di depan lalu dikebelakangkan. Setelah selesai dari memandikan jenazah, Ummu Athiyah memberitahukan kepada Nabi SAW. Lalu Nabi SAW memberikan selimutnya dan berkata, 'Kafanilah dia dengan kain ini.'

Betapa sedih nya Abul Ash ditinggalkan oleh istrinya, dan dia mengatakan kepada Rasulullah "Ya Rasulullah, alangkah pahitnya hidup tanpa Zainab"

Sungguh inilah sebuah kisah cinta sejati antara dua manusia sampai akhir hayat mereka, maka hendaklah kita berupaya menjadikan rumah tangga kita bagaikan kisah ini, sampai Allah SWT mewafatkan kita semua.




Nun walqalami wama yasthurun

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

You Might Also Like

0 komentar