Hukum Seputar Sujud Sahwi

8:24:00 AM


Assalamualaikum..

Bismillahirrahmanirrahim..

pada kajian kali ini, saya akan berbagi tentang Hukum Seputar Sujud Sahwi semoga postingan saya kali ini bisa di terapkan dalam kehidupan kita.

Salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada kita adalah bahwa Allah SWT mengutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia dimuka bumi ini.

Coba kalian bayangkan jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai malaikat. Pasti kalian semua akan berfikir

"ahh, Rasulullah kan malaikat, bagaimana mungkin kita yang manusia bisa mengikuti-nya".

Dengan diutusnya Rasulullah sebagai manusia memungkinkan kita meniru beliau dari semua kegiatan yang beliau ajarkan kepada umatnya. Termasuk ketika beliau lupa dalam shalat.

Sujud Sahwi
Kata sahwi berarti lupa, Kenapa disebut sujud sahwi? karena sujud ini dilakukan ketika lupa dalam shalat. maka dari itu sujud sahwi disyariatkan dalam rangka menutup kekurangan ketika shalat disebabkan lupa.

Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan.
Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lupa jumlah rakaat ketika shalat. Seusai shalat, beliau ditanya para sahabat, "Apakah ada perubahan jumlah rakaat shalat?"
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِى؛ وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ 
"Saya hanyalah manusia biasa. Saya bisa lupa sebagaimana kalian lupa. Jika saya lupa, ingatkanlah aku. Jika kalian ragu tentang jumlah rakaat shalat kalian, pilih yang paling meyakinkan, dan selesaikan shalatnya. Kemudian lakukan sujud sahwi." (HR. Bukhari & Muslim)
Berikut adalah keadaan yang mengakibatkan seseorang disyariatkan sujud sahwi

1. Kekurangan Jumlah Rakaat

Ketika seseorang selesai mengerjakan shalat, dan baru sadar kalau ternyata rakaatnya kurang, maka langsung berdiri dan menambahkan jumlah rakaat yang kurang (yang kurang nya saja) tidak perlu mengulang dari awal, lalu setelah itu di lakukan sujud sahwi setelah salam.

dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami salah satu shalat siang, Zhuhur atau Ashar. Ketika pada rakaat kedua, beliau salam. Lalu beliau pergi ke sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid. Sementara Di antara jamaah ada Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berkomentar. Sementara jamaah yang punya urusan sudah keluar sambil mengatakan, “Shalatnya diqoshor.” Hingga datag sahabat yang bergelar Dzul Yadain mendekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah shalat diqashar ataukah anda lupa?”
 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok ke kanan kirinya, “Betulkan apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain?” Jawab mereka, “Betul, Ya Rasulullah. Anda shalat hanya dua rakaat.”
“Lalu beliau nambahi dua rakaat lagi sampai salam. Lalu beliau sujud sahwi dua kali, dipisah dengan duduk sebentar. (HR. Bukhari dan Muslim)
 ada satu riwayat lagi, yang ini dari Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘anhu
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ngimami shalat Asar lalu beliau salam pada raka’at ketiga. Setelah itu beliau pulang. Seorang sahabat bernama al-Khirbaq menyusul beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memanggil, “Ya Rasulullah!” Lalu dia menyebutkan kejadian tadi. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke tempat imam dan menanyakan, “Apakah benar yang dikatakan orang ini?“
Mereka menjawab, “Ya benar”. Beliaupun menambahkan satu rakaat, hingga salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim)
2. Kelebihan Jumlah Rakaat

Apabila seseorang tersadar bahaw jumlah rakaatnya kelebihan, maka disyariatkan untuk sujud sahwi setelah salam.

Sahabat Ibnu Mas’ud pernah menceritakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami lima raka’at. Seusai shalat, kami bertanya, “Ya Rasulullah, apakah anda menambah dalam shalat?” Lalu beliau pun mengatakan, “Apa yang terjadi?”
“Anda telah mengerjakan shalat lima raka’at.” Jawab para sahabat.
lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَذْكُرُ كَمَا تَذْكُرُونَ وَأَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia semisal kalian. Aku bisa memiliki ingatan yang baik sebagaimana kalian. Begitu pula aku bisa lupa sebagaimana kalian pun demikian.”
Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud sahwi.” (HR. Muslim)
3. Meninggalkan Tasyahud Awal

Ketika kita lupa meninggalkan tasyahud awal, ada 2 hal kemunginan yang bisa terjadi

1. Saat baru teringat setelah berdiri sempurna ke rakaat berikutnya. Didalam kondisi ini kita tidak perlu turun lagi (duduk) melainkan kita lanjutkan shalatnya sampai selesai. Kemudian diakhir kita melakukan nanti sujud sahwi sebelum salam.

2. Saat teringat sebelum bangkit ke rakaat berikutnya. Maksutnya pada saat di tengah tengah ingin berdiri, dan kita teringat kalau meninggalkan tasyahud awal, maka diperbolehkan untuk langsung duduk dan melanjutkan shalat sampai selesai.

dari Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengimami kami shalat dzuhur dan asar. Tiba-tiba beliau berdiri – lupa tasyahud awal – lalu kami mengingatkan: ‘Subhanallah’. Beliaupun mengucapkan ‘Subhanallah’. Dan berisyarat dengan tangannya menuruh kami untuk berdiri. Lalu kami berdiri ke rakaat ketiga. Ketika selesai tasyahud, beliau sujud sahwi sebelum salam.
lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلاَ يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَىِ السَّهْوِ
"Apabila kalian bangkit setelah mendapat 2 rakaat, dan belum berdiri sempurna maka hendaknya dia kembali duduk tasyahud. Dan jika dia sudah berdiri sempurna, maka jangan duduk, dan lakukan sujud sahwi dua kali." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

4. Ragu Dengan Jumlah Rakaat

ragu dalam shalat ini juga ada dua kemungkinan

1. Ketika kita ragu jumlah pada rakaat, kita bisa menentukan mana yang lebih meyakinkan. Dalam keadaan ini, dia ambil yang lebih meyakinkan, kemudian sujud sahwi setelah salam.

Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُسَلِّمْ ثُمَّ لْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ
"Jika kalian ragu dengan jumlah rakaat ketika shalat, pilih yang paling meyakinkan, dan selesaikan shalatnya, sampai salam. Kemudian lakukan sujud sahwi dua kali." (HR. Bukhari & Muslim)
2. Ketika kita ragu jumlah rakaat, dan kita tidak bisa menemtukan mana yang lebih tepat. Maka kita memilih yang lebih sedikit rakaatnya lalu melakukan sujud sahwi sebelum salam.

Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan itu, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” (HR. Muslim)
Question & Answer
Q : Pak Ustadz, gimana kalau kita lupa untuk sujud sahwi?A : Ketika seseorang lupa dalam shalat, dia harus melakukan sujud sahwi di akhir shalatnya. Baik sebelum atau sesudah salam. Namun terkadang, ada orang yang kelupaan untuk melakukan sujud sahwi.
Q : Apa yang harus dia lakukan?A : Pertama, jika wudhunya masih ada, dan jeda waktu setelah shalat sebentar, maka segera lakukan sujud sahwi. termasuk jika imam yang lupa ketia shalat, dan apabila imam tidak tahu caranya sujud sahwi. Maka dia boleh sujud sahwi ketika diberitahu makmum. Ini merupakan pendapat Imam Malik, Imam Syafii dalam qoul qadim, al-Auza’i dan yang lainnya.
Q : Nahh, kalau wudhunya sudah batal gimana ustadz?A : Ada dua kemunkinan yang bisa terjadi, pertama jika kasus lupanya berupa kelebihan rakaat, maka dia langsung wudhu dan sujud sahwi. Karena fungsi sujud sahwi ketika kelebihan rakaat adalah untuk menghina setan yang menggoda kita. bisa kalian lihat pada eterangan Syaikhul Islam dalam Majmu’ Al-Fatawa, kedua jika kasus lupanya selain kelebihan rakaat, maka kita mengulangi shalatnya dari awal. (Shahih Fiqh Sunah).
Q : Oh iya ustadz, kalo misalnya kita shalat jamaah, terus imamnya lupa dalam shalat gimanaA : Ada beberapa kasus yang penting diperhatikan terkait sujud sahwi ketika shalat jamaah. Jika imam lupa maka makmum laki-laki mengingatkan imam dengan membaca ‘Subhanallah’. Sementara makmum perempuan menepukkan tangannya. Jika imam sujud sahwi sebelum salam, maka semua makmum ikut sujud sahwi, termasuk makmum yang masbuk. Jika imam sujud sahwi setelah salam, maka makmum masbuk tidak boleh ikut sujud sahwi. Sedangkan makmum yang mengikuti shalat dari awal, mereka harus sujud sahwi bersama imam.Dalam shalat berjamaah, makmum yang lupa bacaan shalat, misalnya tertukar antara doa rukuk dan sujud, maka makmum tidak wajib sujud sahwi. Karena makmum tidak boleh sujud sahwi sendirian, sementara imam tidak sujud sahwi.Jika lupa dalam shalat, namun dia tidak sujud sahwi maka makmum berhak mengingatkan imam agar dia sujud sahwi dan diikuti makmum lainnya.

Semoga pada pembaca yang dirahmatkan Allah SWT dapat mengambil ilmunya, dan Semoga Allah SWT memberi taufiq kepada kita untuk melakukannya dengan sebaik mungkin dalam beribadah kepada-Nya.

Nun walqalami wama yasthurum
Wassalamualaikum...

You Might Also Like

0 komentar