Biarkan Mereka ke Bulan, Mari Kita ke Surga - Ustadz Muflih Safitra

7:48:00 AM


Assalamualaikum...

Bismillahirrahmanirrahim.. Saudara yang dirahmati oleh Allah SWT, semoga tidak bosan untuk membaca postingan saya ini hehe :3
Lagipula tidak lah rugi bagi kita untuk membaca kajian seperti ini, daripada kita hanya menghabiskan seharian penuh dengan membaca hal-hal yang lebih banyak buruknya, dibandingkan manfaatnya.

Pada postingan saya kali ini, saya akan memberikan sedikit hal yang seharusnya di renungkan oleh kita yang taat kepada Allah SWT. Karena yang saya lihat akhir-akhir ini, banyak kesalahpahaman diantara umat dalam menanggapi sesuatu yang menurut saya juga ambigu. Semoga para pembaca bisa mencerna inti dari pembahasan yang saya berikan kali ini, bismillah.


Pernah kah kalian ke toko buku, terus kalian jalan ke bagian buku-buku islam?

Kalau kalian perhatikan, disana pasti banyak buku-buku yang membahas tentang hal-hal yang sering sekali di perdebatkan. Seperti buku tentang rokok itu haram atau halal, buku tentang jenggot yang harus dipelihara, buku tentang mengupas bid'ah, buku tentang musik dalam islam.

Berhubungan dengah hal diatas, kita pasti pernah mendengar, melihat di tv atau youtube, banyak orang yang berdiskusi mengenai buku-buku diatas, kemudian banyak juga orang-orang yang membantahnya, lantas mereka berkata :
"Sudahlah, tidak usah terlalu banyak berdebat, karena yang kita lihat, orang barat sudah sampai ke bulan, lantas kita masih sibuk berdebat tentang masalah ini"
Coba kalian pikirkan, apakah kalimat ini adalah kalimat yang bijak?
Perkataan yang seperti itu bukanlah perkataan bijak dan benar, dimana ketika sekumpulan orang membahas tentang agama dan ada satu orang mengucapkan "Sudalah, untuk apa kita berdebat, toh orang barat sudah sampai kebulan, untuk apa kita terus membahas hal ini" maka perkataan ini tidaklah benar.

Ilmu-ilmu yang mereka bahas dan mereka sampaikan adalah masalah agama, dimana pada zaman dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sudah membahsannya, yang pembahasan pada waktu itu dianggap oleh para sahabatnya sebagai masalah yang penting, bahkan tidak ditinggalkan satu hari pun.

bisa kita lihat di kisah Umar bin Khattab ketika ia di tikam oleh Abu Lu'lu'ah Fairuz, lalu kemudian Umar sempat berbaring dan didatangi oleh seorang pemuda lantas Umar berkata "Wahai anak muda, angkatlah celanamu" maksudnya angkatlah celana mu ini adalah tidak boleh isbal. Hal ini menjadi sangat lah penting karena dibahas oleh Umar bin Khattab ketika beliau dalam keadaan sekarat.

Kemudian, ada sebuah pertanyaan :
"Sebenarnya ilmu pergi kebulan itu ilmu yang hukumnya apa? fardhu ain atau fardhu kifayah?"

Kata Syaikh As-Sa'di, suatu hal yang sifatnya fardhu ain adalah ilmu yang wajib untuk di pelajari oleh seseorang dalam rangka untuk memberikan pengamatan yang baik tentang agamanya, akidahnya, ibadahnya, akhlaknya. Sedangkan ilmu yang fardhu kifayah yaitu ilmu yang sifatnya hanya tambahan, dimana dimaksudkan bahwa ketika sudah ada yang mempelajarinya dengan jumlah yang cukup, maka selesai kewajiban kita untuk mempelajarinya. 

Kembali ke pertanyaannya, fardhu ain atau fardhu kifayah?
kalau dibilang fardhu ain tidaklah mungkin, karena pergi kebulan tidak ada hubungannya dengan agama, kita tetap masih bisa untuk menjalankan agama kita dengan baik walaupun tidak pernah pergi kebulan, namun kalau ada yang bilang itu adalah fardhu kifayah, tidaklah benar, karena yang namanya fardhu kifayah kita tetap wajib pergi kebulan, tetapi dalam hal ini, dunia tetap berputar, tidak pernah kita mendengar seseorang meninggal karena tidak pergi kebulan, atau bahkan kita tidak pernah tau bernarkah seseorang pernah pergi kebulan?

Jadi dari sisi masalah ini tidaklah benar perkataan "Sudalah, untuk apa kita berdebat, toh orang barat sudah sampai kebulan, untuk apa kita terus membahas hal ini". Ia bijaksana tetapi tidaklah sesuai dengan fakta dalam ilmu agama kita, disisi lain juga apa salahnya kita belajar agama? saat kita mempelajari agama, itu adalah ibadah untuk kita. Tidak lah perlu kita menginjakan kaki kebulan, bahkan ada beberapa orang yang bilang kalau pergi kebulan itu adalah suatu kebohongan.

Kita tidak perlu membahas panjang-panjang mengenai pergi kebulan, karena pada intinya jika kita ingin mengejar, sudahlah ketinggalan jauh, karena pada dasarnya mereka ingin membuat kita merasa selalu tertinggal dibawah mereka, padalah kita ini adalah kaum yang di ciptakan oleh Allah sebaik-baiknya kaum.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an :

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ 
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. al-Baqarah (2) : 120)
Salah satu contohnya adalah dengan membuat sebuah isu-isu atau berita-berita yang membuat kita semua merasa minder dengan agama islam.

Kesimpulannya, jika kita membahas soal agama, ilmiahnya dalil dengan dalil, seperti yang satu ini dalil nya mengucapkan haram, namun satu lagi mengucapkan tidak masalah. Tetapi ketika membahas soal agama dengan dalil dan kalimat bijak, hal ini bukanlah hal yang ilmiah, dan jawablah kalimat bijak itu dengan kalimat "Biarkan mereka pergi kebulan, mari kita pergi ke Surga".

Nun walqalami wama yasthurun
Wassalamualaikum...

You Might Also Like

0 komentar